Liga Passy 2011: Akhir Cerita Di Sudut Lapangan

“Usaplah keringat yang mengalir membasahi keningmu
Angkatlah ke atas dagumu yang tertunduk layu
Jangan menyerah, jangan mengalah
Bangunkan, bangkitkan semangat juangmu hingga membara
Yakinkan, pastikan inilah puncak segalanya
Berbanggalah, karena kau adalah sang juara...”


(Bondan Prakoso and Fade to black, Sang Juara)

Dan selesailah sudah untuk saat ini, 29 Mei 2011. Sang juara sudah bersuara. Sang pemenang sudah mengerang. Mereka sudah siap untuk selalu dikenang bahwa merekalah yang berhak untuk menjadi pemenang. Mereka menang karena ketangguhan dan bakat yang teruji dan bukan semata karena keberuntungan. Sisa dari bakat yang teruji adalah kemenangan. Feeling glory. Dan lebih dari itu semua adalah semangat untuk menang. Semangat untuk menang men-drive mereka mengoptimasi kemampuan, bakat dan disiplin.

And the winner is Sparta I (satu). Sparta adalah nama yang dipakai oleh tim sepak bola asal rayon Maguwoharjo dalam liga Passy 2011 Djogjakarta. Sparta adalah pemenang dalam liga Passy 2011. Mengapa Sparta?  Sparta adalah sebuah regensi di semenanjung Yunani dalam legenda Yunani. Konon Yunani dibagi dalam dua kebudayaan kuat yakni Athena dan Sparta. Di Athena, orang-orang Yunani mengembangkan budaya, ekonomi dab politik. Sementara di Sparta, orang-orang Yunani berkembang dalam kemampuan bala tentara (militer) dengan semangat heroik dan patriotisme yang tinggi. Tim sepak bola Maguwoharjo menggunakan nama sparta untuk mengadopsi semangat yang dulu perna ada pada orang-orang Sparta (the Spartan). Semangat itu adalah hasrat untuk selalu menang, gairah untuk mencapai juara. Sidney Newton Bremer mendefenisikan hasrat itu sendiri sebagai cinta dalam tindakan. Dan nama sparta sendiri sengaja disematkan pada dada tim sepak bola Maguwoharjo yang kemudian nama itu sendiri menjadi specter, hantu, dalam setiap pertandingan. Sama seperti cara kerja sebuah ideologi, semangat dari hantu sparta itu bekerja pada ranah unsciousness. Nilai-nilai itulah yang memperkuat skill dan bakat mereka untuk meraih kemenangan dalam liga Passy 2011.

Jelas, kemenangan tidak datang dari khayangan dan sekali jadi. Kemenangan menjadi resultante dari proses persiapan hingga finisihing. Menang berarti proses itu berjalan baik. Persiapan yang baik menjadi kail tepat untuk mengait kemenangan.  Sebuah pepatah Latin memberi mukadimah untuk kesimpulan baik bahwa victoria amat curam. Kemenangan selalu sehati dengan persiapan. Sementara bakat dan skill akan menjadi umpan dalam proses memancing kemenangan. Ikan besar butuh umpan besar. Bakat dan skill yang terasa bisa menjadi surat sakti untuk membawa pulang trofi kemenangan. Tetapi tidak berhenti disitu. Seperti proses memacing, setiap orang dalam tim harus punya sikap yang baik atas perannya. Sikap yang dimaksudkan di sini adalah kesabaran, fokus, fair dan improvisasi. Sepak bola tidak semata terkait kemampuan fisik tetapi juga pikiran dan emosi. Semua parsial itu harus seimbang. Dan dalam liga Passy 2011, tim yang berhasil mengharmoni semua parsial itu adalah tim Sparta I (satu). Dengan demikian, merekalah yang berhak untuk mendapatkan gelas sebagai The Winner.

 “Profisiat kepada Tim Sparta I yang sudah menjuarai liga Passy 2011”, demikian kata pembina Passy, Rm. Eduardus Sateng Pr. di sudut lapang Angkasa, Janti, Djogjakarta. Dan sang juara bersorak gembira diiringi musik tepuk tangan (standing appause) tim lain yang belum berhasil menjadi juara. Mereka bergembira sebab pencapain mereka berakhir dengan indah yaitu kemenangan. Lalu Rm. Eduardus Sateng Pr. berpesan kepada semua tim bahwa “kemenangan harus dibawa ke luar lapangan juga bukan hanya di dalam lapangan. Begitu pun dengan kekalahan. Jadikanlah kekalahan itu sebagai evaluasi”. Bawa kemenangan dan kekalahan itu ke luar lapangan. Ada nilai yang transenden dalam pesan ini. Jika pertandingan liga Passy 2011 adalah simulasi perjuangan, maka perjuangan sesungguhnya adalah “pertandingan” di luar lapangan. Itu adalah hidup itu sendiri. Vita est militia. Hidup adalah perjuangan. Perjuangan itu adalah membangun dunia yang lebih baik dan memanfaatkan hidup itu sendiri demi sesuatu yang berlangsung lebih lama dari hidup itu sendiri. Sesuatu yang beyond life. Kemenangan saat ini menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu kemenangan lain. Dan kekalahan hanyalah ujian akhir keteguhan harsrat untuk meraih kemenangan. Kekalahan tidak berarti gagal tetapi sebuah kondisi mengenjangkan lagi otot-otot, menguatkan tulang, mengangkat kepala dan menyingsing lengan baju untuk kemenangan yang lain sebab di sana ada koreksi dan evaluasi.

Selain tim Sparta I, tim lain (De Kraeng, Spumer, Sparta, Sagan United, Raja Ntala, Raja Wulang, The Queen, The King, Lawa Babarsari City, Lawa Babarsari United) juga pernah merasakan sorai kemenangan meski tidak juara. Kepada sang juara, tim-tim lain juga mengangkat topi dan mengucapkan profisiat. “Kemenangan kalian (Sparta I) bukan karena kegagalan kami tetapi karena kalian lebih siap untuk menang”, demikian ujar Rijkard Turkaemli, pemain tim De Kraeng yang belum pernah terkalahkan olen tim juara. Segenap tim juga mengucapkan selamat dan profisiat kepada runner up liga Passy 2011, LBC united dan kepada top scorer, Kristo “cesc” Jaya (Spumer). 

Profisiat dan terima kasih kepada keluarga Passy selaku panitia yang menyelenggarakan liga. Liga Passy 2011 sudah berlangsung dengan baik. Tujuan hampir dekat yakni kebersamaan sebagai keluarga Manggarai di Djogjakarta. Terima kasih juga kepada segenap orang Manggarai (Mricanita, Saganita, Jantinita, Maguwonita, Babarsarita, RPSita dan teman-teman lainnya) yang telah membiarkan mata bening kalian bergerak dalam setiap pertandingan. Kehadiran kalian di setiap sudut-sudut lapangan pertandingan adalah mutiara yang memberi cahaya dan warna dalam setiap pertandingan. Liga Passy tahun ini sudah selesai tetapi biarlah semangat persahabatan dan kebersamaan terus berlanjut dalam “liga” kehidupan kita di kota ini dan dimana pun kita berada.

Caosa sokur ing sabarang tinemu aja kendhat anggomu dedonga. Epigram Jawa ini untuk kita semua. Bahwa tunjukanlah rasa syukur akan segala yang diperoleh dan jangan lupa doa. Ada penyelenggaraan Ilahi yang menyertai setiap usaha dan kegiatan kita. Doa syukur dan puji dinaikan kepada Tuhan Yang Agung atas rahmat dan kasih-Nya sehingga kegitan ini (liga Passy) dapat berlangsung dengan baik. Dan berakhirlah cerita di sudut lapangan itu. Setiap orang pulang dengan kemenanganya masing-masing. Hasta la victoria siempre.



Djogja, 30 Mei 2011
Alfred Tuname
Manager De Kraeng 

Komentar

  1. nice treat kae,.
    "karena kegagalan kami tetapi karena kalian lebih siap untuk menang”, demikian ujar Rijkard Turkaemli...hahahahha...komentar kk idrus lumayan mantab kae,..

    BalasHapus

Posting Komentar