Sepak Bola Sepak

Bola sepak disepak. Bola bergerak kesana-kemari. Di tankap dan dilepas. Itulah fungsi keberadaan sebuah bola. Ia tidak perlu digendong atau dijadikan barang pusaka. Barang keramat. Barang antik. Bola akan menjadi barang antik jika dikeramatkan. Pasti bola itu tak berharga ekonomis sebab tak ada harga yang bisa sandingkan dengan keberadaan keramatnya. 

 Pertandingan belum dimulai. Bola masih disepak ke sana-kemari tanpa ada wasit yang mengontrol perjanan bola. Aku duduk di sebuah pojok. Tidak ada tribun. Hanya ada lapisan semen pembatas jalan dan lapangan. “Payung” pohon besar menambah kenyamanan di pojok  itu. Naungan pohon besar itu memberi keteduhan bagi para penonton hingga terhindar dari cubitan sinar mentari siang hari.  Naungan itu jelas bukan milikku sendiri (mbau ru, dalam bahasa Manggarai). Siapa saja boleh berteduh di pojok itu. Oleh sebab itu aku tidak bisa menyebutnya rumahku sendiri (Mbaru). Namanya juga sepak bola, unsur ke-publik-annya melekat pada dirinya. Ketika semua pandangan mata tertuju padanya, sepak bola pun menjadi urusan publik. Adalah sebuah keganjilan, anomi jika sepak bola dianggap (dijadikan) milik pribadi.  padahal sepak bola syarat dengan dengan norma dan aturan-aturan. 

 Pluit ditiupkan. Kick off. Pertandignan pun dimulai. Arah bola mengikuti pola-pola serangan seturut forma-forma pemain.  Dalam pertandingan bukan hanya stamina yang diperlukan tetapi juga kekompakan, “in solidum obligari” untuk membangun sinergi untuk merealisasi visi. Goal. Tidak ada pemain hebat, hanya ada tim hebat.  Dan ketika kemenangan (victory) adalah visi tertinggi, maka setiap pemain, mengutip seorang pelatih football, Vincent Thomas Lombardi, “must make a personal commitment to excellence and victory, even though we know deep down that the ultimate victory can never be completely won...” Para pemain berada pada suatu kondisi dengan konsentrasi tingkat tinggi. Mereka yang sering bergelut dengan sepak bola akan merasakan kondisi tersebut. Luar biasanya adalah mereka harus terus berpikir strategis sementara mereka terus bergerak berlari dalam kecapaian. Kebalikan radikalnya adalah kondisi tidur dan bermimpi.

Para pemaian terus bergerak dan menendang bola. Berhenti dan menerima bola. Mereka terus bermain seperti “there is no scoreboard”. Ketika rasa menghasratkan kemenangan, pikiran merencanakan goal. Interupsi scoreboard dapat saja mengikis semangat. Karenanya, biarkan scorebord yang memanjakan mata penonton, sementara aliran bola yang menjinakan mata pemain.

Puncak permainan sepak bola adalah kemenangan. Dan  kemenangan itu akan dihadiahi “full elation and fun”. Jelas, permaian yang membutuhkan “sacrifice, self-denial and dedication”  ini tidak berhenti pada kemenangan itu sendiri. Subjek (pemain) membutuhkan lebih dari itu. “recognition” dengan multi kategorinya adalah ruh penggerak permainan ini bahkan hampir semua permainan.  Kegemaran akan subjek pada permainan ini (sebak bola) menimbulkan “habitus” yang kemudian menjadi hobi.  Dalam proses , subjek  bisa saja memjadi seorang yang berbakat (talented). Bagi filsuf Aristoteles, “bila bakat (itu) bertemu dengan kebutuhan dunia, itulah panggilan hidup”. Dan lahirlah seorang profesional sepak bola. 

Meski bukan pertandingan sepak bola profesional, kibaran panji profesionalitas dalam pertandingan tanpa label profesional pun harus tetap dikibarkan. Sikap profesionalitas menjadi syarat penting untuk tetap menjaga nilai pertandingan (value of competition). Nilai sportivitas, fair play, no racism harus sudah membadan dalam setiap pelaku sepak bola. Nilai-nilai inilah yang membuat orang akan terus merasa bahagia meski dalam ketakberuntungan atau kekalahan. Glück im Unglück, kata orang German. Lagi-lagi adalah anomi, “sakit” jika seorang pemain sepak bola tidak meresapi nilai-nilai tersebut dalam pertandingan yang sehat ini.

Selanjutnya, pertandingan untuk meningkatkan kemampuan dan talenta. Spritnya adalah “the will to excel”. Dan ketika sebak bola hanyalah sebuah “game”, maka “the will to excel” sejatinya tidak berhenti pada permainan sepak bola itu an sich. Subjek juga perlu memiliki “the will to excel” di luar kotak sepak bola dengan menyepak semua bola ketidakadilan, rasisme dan semua bentuk-bentuk ketimpangan dalam kehidupan sosial, bermasyarakat, berkeluarga dan pertemanan. 


Djogja, 22 Maret 2011
Alfred Tuname

Komentar