Ikamarsta Pelihara "Musang": A Mode Of Existence (Bagian I)


Pendahuluan

Setiap organisasi punya aturannya sendiri. Aturan itu perlu dan penting untuk mengatur dirinya senidiri (itself). Tentu saja, aturan untuk organisasi bukan organisasi untuk aturan. The goal is more important than the role. Tetapi the rule dibuat sebagai pengantar menuju the goal. Jika sebuah organisasi tidak memiliki atau merasa tak perlu aturan, itu berarti bukan organisasi. Itu hanya sekelompok orang yang bergerak seperti bola billiard. Bola yang saling menabrak dan lalu pergi entah ke lubang mana. Atau seperti crowded supporter yang mengorganisasikan diri berdasarkan minat-emosi yang sama lalu berjamaah pulang ke liangnya masing-masing tanpa ada suatu ikatan. Memang aturan dirasa (hanya) justru mengkrangkengi ruang gerak dan libertas seseorang. Tetapi sampai dimana pun gerak dan libertas itu berada dalam ruang limit yang saling bertubrukan. Sebab itu, aturan menjadi conditio sine qua non. Dan dengan aturan itu, organisasi/ikatan tidak punah.


Di djogjakarta ada sebuah ikatan yang terdiri dari orang-orang yang mengendong sentimen kultur dan kedaerahan. Sebuah ikatan yang terbentuk karena keinginan bersama untuk berkumpul dan menghimpun diri. Sentimen dalam kesamaan kultur Manggarai (the manggaraian) dan kedaerahan di wilayah bagian timur Manggarai. Organisasi itu kemudian dinamakan Ikatan Keluarga Besar Manggarai Timur Seluruh Yogyakarta. Nama organisasi itu kemudian disingkat Ikamarsta. Sebelum Ikamarsta pernah lahir sebuah organisasi dengan sentimen yang sama. Organisasi itu adalah Forum Keluarga Besar Manggarai Timur atau Forsam. Forsam dibubarkan seletah terbentuknya Ikamarsta.


Ikamarsta didirikan pada tanggal 15 mei 2007. The fundinng fathers Ikamarsta membentuk organisasi ini sebab sebauh forum dirasa tidak cukup menampung the Manggaraian bagian timur manggarai yang mulai tumpah ruah di djogjakarta. Ketidakjelasan kepengurusan Forsam juga turut memberi andil untuk dibentuk sebuah organisasi baru yang kemudian disebut Ikamarsta.


Sentimen kultur dan kedaerahan yang digotong oleh Ikamarsta hanyalah triger untuk membentuk sebuah organisasi. Alasannya Ikamarsta dibentuk adalah pertama, memupuk solidaritas dan kerakraban di antara sesama warga Manggarai bagian timur Manggarai di Djogjakarta. Orang Manggarai di Djogjakarta sangat banyak. Summa totum orang manggarai di Djogjakarta tentu memiliki kepentingan dan aspirasi yang berbeda. Kepentingan dan aspirasi kelompok besar ini agak sulit diakomodasi. Oleh sebab itu, didirikan sebuah wahana kecil dengan kepentingan dan apirasi tentu juga berbeda tetapi lebih mudah dikerucutkan.  Bud Wilkinson dalam bukunya "The Book Of Football Wisdom”, menulis bahwa "if a team is to reach its potential, each player must be willing to subordinate his personal goals to the good of the team”. Solidaritas dan kearaban (the good of the team) pun lahir dari kepentingan dan apirasi yang relatif sama ini. Kedua, menggali dan mengekspos permata-permata Manggarai di wilayah bagian timur melalui kreativitas dan bakat warga Manggarai bagian timur. Bahwa setiap orang juga bertanggung jawab tanah kelahirannya, natas labar sebab bagian dari mahkluk sosial (ens sociale). Itulah pesan leluhur (pede dise empo) bahwa neka oke kuni agu kalo. Ikamarsta pun ingin mengambil peran itu.


"Kondom Bocor" Ikamaya

Ikamaya (Ikatan Keluarga Manggarai Raya Yogyakarta) adalah organisasi yang menghimpun semua orang manggarai yang berada di Djogjakarta. Eksistensi perjalanan Ikamaya menempuh waktu yang sangat panjang. Dari beberapa cerita para senior dan orang tua, pada mulanya Ikamaya adalah merupakan singkatan dari Ikatan Keluarga Mahasiswa Manggarai Yogyakarta. Saat itu, anggota Ikamaya hanya terdiri dari mahasiswa manggarai yang menempu kuliah di Djogjkarta. Seiring perjalan waktu, nomenklatur Ikamaya mengalami perubahan arti. Pada tanggal 22 Juni 2008, dalam sebuah pertemuan informal di wisma PKRI Jl. Dr. Wahidin No. 54, Djogjakarta, Ikamaya diberi arti baru yakni Ikatan Keluarga Manggarai Raya Yogyakarta. Kata "raya" yang mengikuti kata "Manggarai" mengandung arti kesatuan kultural. Kesatuan kultural inilah yang digotong oleh segenap warga manggarai Djogjakarta untuk mengatasi keterbelahan orang manggarai secara distrik administratif pemerintahan (Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat).


Defacto, organisasi tidak berhenti pada revivalitas Ikamaya ataupun ikamarsta, X-pio, et cetera. Organisasi lain dengan membawa kesamaan sentimentalitas (dari bahasa prancis, sentimentalité yang mengandung arti "kesadaran", "sensibilitas, "subjektivitas", "perasaan") kultural Manggarai atau pun memorial historis kesamaan nasip (Ernest Renan) mewabah dan menjamur. Boleh jadi, fenomena proliferasi itu terjadi lantaran "kondom bocor" Ikamaya. Atau bisa juga, animo dan birahi untuk berkumpul dan berorganisasi sedang meninggi.


Objektivitas "kondom bocor" ikamaya hanyalah persepsi subjektif sebagai benih dalam "anakan-anakan" organisasi. Rumusan bebasnya dijerumuskan dalam kutipan Rousseau, “un jeste mulieu entre l'indolence d'état primitif et la pétulant activité de notre amour propre”. Tetapi, penulis pun tidak berniat membahas tampakan payung bocor ini sebab cakupan kajiannya sangat luas. Kait pembicaraannya adalah contagion effect "kondom bocor" tersebut. Pakem berwajah neolit bahwa "banyak anak, banyak rezeki" menggelembung dalam "kecelakaan kondom-bocor  Ikamaya" ini. Sebagai (organisasi), Ikamaya sejatinya (sudah) berbaik hati (benevolen) dengan munculnya "anakan-anakan" organisasi baru yang spirit dan semangatnya hampir sama. Teleologinya adalah Manggarai yang lebih baik. Sebuah cara pembacaan masa depan dengan kaca mata kekinian. Kini "kecelakaan" (kondom bocor) itu dilihat sebagai berkah bahwa semua orang dengan "anakan-anakan" organisasinya itu juga punya idealisme. Inilah blessing in disguise. Sebab, bagaimana pun "anakan-anakan" itu tetap berada dalam domain "induk" Ikamaya dan hanya saja gerakannya lebih sporadis yang (sepertinya) mengoptimalkan "partikularitas"nya dalam rendaman "universalitas" Ikamaya. Bagaimana "anak-anakan" organisasi ini melihat "induk"nya adalah sebuah pertanyaan penting dalam posisi mereka yang dilematis.


Djogja, 16 Februari 2011
Alfred Tuname

Komentar