SANPIO CUP 2009: Road To Brotherhood

SANPIO CUP 2009: Road To Brotherhood

Oleh Alfred Tuname

Setiap insan yang ada hingga hari ini terbentuk dari kepingan-kepingan kisah yang pernah tercecer dalam situs hidupnya. Kepingan-kepingan itu bergerak maju membentuk watak aktor. Dan “watak terpupuk dalam riak besar kehidupan”, jelas Wolfgang Goethe. Dalam bentangan kepingan-kepingan kisah itu juga, alumni sanpio, di Jogjakarta khususnya, mencoba menjejaki kembali kemesraan-kemesraan lama yang membentuk watak. Bukan hanya untuk dikenang tapi digenggam. Relasi fraternal yang dulu pernah ada dikandung kembali. Hangatnya persaudaraan menjadi warisan yang selalu terpatri dalam hati alumni sanpio. Mengutip penyair Prancis RenĂ© Char, “notre heritage n’est precede d‘aucun testament”(warisan (itu) ditinggakan kepada kita tanpa surat wasiat). Dari rahim inilah Sanpio Cup dilahirkan.

Panggung Sanpio Cup menjadi pentas pertemuan antara masa lalu (kenangan) dan harapan. Masa lalu sudah diletakan pada tempatnya. Bahwa pernah ada kenangan akan laga olahraga menyambut pesta famili (HUT Seminari Pius XII), setiap 08 September. Berikut banyak kepingan kisah dan tradisi yang digenggam para alumni. Di dalamnya terdapat senyum dan air mata, canda dan serius, masuk dan keluar, dan norak dan suci. Multi wajah itu (many faces) tidak dimaksudkan untuk membentuk manusia yang berkepribadian ganda. Jika realitas ini adalah pertambangan, maka biarkanlah ia memberikan ayakan kristal keadilan, penalaran, tanggung jawab dan keagungan kepada muridnya. Kristal ini menjadi warisan abadi alumni untuk hidup bersama. Sebab hidup adalah inter homines esse (berada di antara manusia-manusia), jelas Hannah Arendt dalam bukunya The Human Condition. Dengannya, imajinasi georafis telah berarak pada golgota imajinasi historis. Semua itu berawal dari lembah Kisol, Seminari Pius XII.


“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu” boleh jadi adalah harapan komunitas Xpio (Ex-Sanpio Jogjakarta). Tetapi harapan itu bukan harapan satu-satunya. proyek persaudaraan yang kuat dan kental menjadi aspirasi, tujuan dan cita-cita (telos)dalam pesta sanpio cup 2009. Di tengah masyarakat modern yang gamang krisis, persaudaraan (brotherhood) terasa seakan kian rontok oleh tropis alienasi. Masyarakat Manggarai Yogyakarta pun terindikasi krisis tersebut. Fragmentasi masyarakat Manggarai Yogyakarta kian berarak pada polar yang ekstrim. Fragmentasi itu bukanlah suatu misteri big bang yang penuh misteri dalam realitas, melainkan resultante dari bertemunya faktor-faktor sosial yang terindentifikasi, diantaranya pemekaran Kabupaten Manggarai yang dianggap membelah budaya Manggarai. Sanpio Cup juga diselenggarakan untuk mengatasi ini. Sanpio Cup bukan semata untuk “error elimitation”, tetapi untuk menyelam kembali pada akar tradisi “neho teu ca ambo, neka woleng lako; neho muku cad pu’u, neko woleng curup; neho ipung cad tiwu, neko woleng wintuk”. Nilai budaya ini menjadi warisan yang selalu melekat dalam hati dan pikiran orang Manggarai. Nilai budaya tersebut tidaklah dihayati sekadar sebagai Gabe (warisan) tetapi diterima sebagai Aufgabe(tugas). Dan alumni sanpio mengambil tugas ini. Sebab alumni sanpio juga ahli waris sah kebudayaan Manggarai. Inilah sisi praksis Habermasian sanpio cup. alumni Sanpio bekerja untuk membangun kembali tiang-tiang persaudaraan dan berinteraksi dengan sesama orang Manggarai Yogyakarta dalam tindakan komunikatif. Dan dalam kaitannya dengan persaudaraan orang Manggarai Yogyakarta, sanpio cup (sepak bola) bukanlah “causa prima”, melainkan hanya berupa aproximasi (semakin mendekati)persaudaraan.

Akhirnya, selamat bertanding. Bermainlah dengan spirit confraternity and sportivity. Glad if you win and happy if you fail.

Viva Sanpio!!!
Jogja, 06 September 2009

Komentar