Keuskupan Ruteng dan Pendidikan Manggarai Timur

Sumbangsih Gereja Keuskupan Ruteng
Bagi Pendidikan Di Manggarai Timur
(Mengkaji Langkah Pemberdayaan SDM)
Rm. Ferry H. Warman, Pr
Dalam Seminar Tentang Pembentukan Kabupaten Manggarai Timur


Pengantar
Tulisan ini bukanlah sebuah laporan histories kuantitatif. Penulis tidak membuat sebuah penelusuran sejarah tentang sepak terjang karya Gereja Keuskupan Ruteng di kabupaten Manggarai Timur. Tidak berbicara tentang waktu, kapan persisnya Gereja Keuskupan Ruteng mulai menjalankan peran edukatif praktisnya. Penulis juga tidak banyak mengedepankan tentang angka-angka seberapa besar kuantitas peran Gereja Keuskupan Ruteng, dan seberapa jauh krisis kualitas sumber daya manusia di Manggarai Timur sebagai tempat karya keberpihakan Gereja dalam peningkatan mutu pendidikan. Tulisan ini tidak lebih dari sebuah deskripsi tentang situasi konkrit pendidikan di Manggarai Timur dan arah gerak keprihatinan dan karya gereja bagi pemberdayaan SDM di Manggarai Timur, yang secara khusus diaktualisasikan dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan.


Untuk menghindari adanya unsur subyektivitas dalam deskripsi tentang pendidikan Manggarai Timur, saya menghubungi pihak-pihak terkait yang dapat dijadikan narasumber tulisan ini. Pihak pertama yang saya hubungi adalah Rm. Drs. Marten L.P. Jenarut, SH, Pr, selaku Ketua Yayasan SUKMA Keuskupan Ruteng. Saya juga menghubungi praktisi pendidikan Mangarai Timur, Bapak Rokus Jumpa, Spd, tenaga pengajar Rm Edi Jelahu, Pr, Rm. Bone Rampung, Pr (Guru SMP dan SMA Seminari Kisol), Rm. Emil Jehadus, Pr, Ibu Emilda Maria (Guru SDN Pota) dan para output pendidikan Manggarai Timur untuk mendapatkan input dan sekedar konfirmasi. Saya yakin pihak-pihak ini bukan hanya berpikir dan merancang paket kegiatan pemberdayaan pendidikan, tetapi juga sudah banyak bekerja bagi pemberdayaan pendidikan. Itu sama sekali tidak berarti saya mengabaikan interpretasi dan pikiran pribadi saya untuk mengeksplorasi dan menelaah situasi riil pendidikan di Manggarai Timur. Dalam konteks ini, saya hadir sebagai pengamat yang memandang dari jauh, tanpa terlibat langsung dalam proses pendidikan di sana, tetapi masih masih memiliki hati untuk berprihatin dan mencoba menyumbangkan pikiran positif bagi pendidikan di sana. Dalam konteks inilah, saya berbicara, menyampaikan sumbangan pikiran dan mengajak peserta diskusi untuk menelaah lebih jauh tentang persoalan pendidikan di Manggarai Timur kemudiaan merekomendasikan pikiran-pikiran kritis, inovatif dan konstruktif bagi pembangunan pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam tulisan ini, saya tidak memaparkan teori-teori tentang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Saya berbicara tentang hal praktis, bagaimana pendidikan itu berjalan dan bagaimana alur pemberdayaan masyarakat berproses dalam realitas pendidikan di Manggarai Timur. Sumbangan pemikiran kritis konstruktif kita dalam diskusi nanti tentunya menjadi basis teoretis penyelenggaraan pendidikan kita ke depan. Tentu ini bertumpu pada apa yang telah kita baca dari literature-literatur, diskusikan dan renungkan dalam diskusi ini. Inilah yang nantinya menjadi rekomendasi kita bagi pembanguan pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur ke depan. Saya hanya mengedepankan sebuah wacana yang terbuka bagi diskusi, terbuka bagi lahirnya pikiran-pikiran kritis dan memungkinkan munculnya jawaban-jawaban yang pas untuk menata pendidikan kita ke depan.


Pendidikan Manggarai Timur: Selayang Pandang
Situasi pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur tidak jauh berbeda dengan situasi pendidikan di kabupaten-kabupaten lainnya di daratan Flores. Persoalan-persoalan, seperti kurangnya tenaga pengajar profesional, lemahnya managemen pendidikan, tidak memadainya sarana prasarana serta infrastuktur penunjang, dan realitas kemiskinan adalah gambaran kronis tentang realitas pendidikan di daerah-daerah terpencil. Tali temali kompleksitas persoalan tersebut berujung pada rendahnya mutu pendidikan. Pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah terpencil mengalami krisis kualitas. Sebagai sebuah Kabupaten yang baru terbentuk, Kabupaten Manggarai Timur tentu juga menghadapi tantangan serupa. Inilah kendala-kendala utama yang dihadapi oleh Gereja Keuskupan Ruteng untuk menunjukkan keberpihakkannya pada kegiatan pendidikan.
Secara kualitatif pendidikan di Manggarai Timur mengalami degradasi mutu. Kenyataan ini bisa dibaca dari output/hasil pendidikan di Manggarai Timur. Mutu pendidikan di Manggarai Timur terbilang rendah atau kurang. Memang ini juga dialami oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Setuju atau tidak setuju pendidikan di Manggarai Timur tergolong rendah. Ada beberapa indikator yang menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan itu. Pertama, pada empat tahun terakhir, dengan diselenggarakannya UN, ditemukan data bahwa hasil rata-rata UN para peserta UN di Manggarai Timur secara keseluruhan jauh di bawah standar nasional. Itu berarti kualitas pendidikan di Manggarai Timur sungguh rendah, kurang, dan memprihatinkan. Kedua, Output pendidikan Manggarai Timur (Manggarai umumnya) tidak kompetitif, tidak banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Ketiga, adanya kesenjangan yang tajam antara output Seminari Kisol sebagai barometer pendidikan Manggarai Timur dengan sekolah-sekolah lain di Manggarai Timur.
Kenapa persoalan ini terjadi? Apakah latar belakang permasalahannya? Rendahnya mutu pendidikan di Manggarai Timur merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan yang menyertai pendidikan. Persoalan seperti, profesionalitas guru, system pendidikan, sarana-prasarana bahkan persoalan “kemiskinan” menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan. Persoalan inilah yang menjadi titik picu krisis kualitas pendidikan. Dengan demikian, kualitas pendidikan dapat didongkrak kalau sumber-sumber persoalannya dapat dipecahkan.
Di tengah derasnya tuntutan profesionalisme guru dan getolnya pembicaraan tentang perlunya sertifikasi mengajar bagi para guru, Kabupaten Manggarai Timur seakan digodam oleh tubrukan tuntutan ini. Secara kasatmata, 87 persen tenaga pengajar di Kabupaten Manggarai Timur adalah guru-guru tamatan SPG. Kepada merekalah kita percayakan tugas pengajaran dan pembelajaran. Merekalah yang pertama-tama menjalankan tugas pendidkan formal. Apakah mereka ini tenaga professional? Pertanyaan ini bisa dijawab dari output pendidkan di Manggarai Timur. Sekarang, anda bisa menilai dan memprediksi tentang masa depan pendidikan di Manggarai Timur. Lebih spesifik, persoalan profesionalitas guru langsung berkaitan penguasaan materi pembelajaran dan penerapan pola pengajaran dan pembelajaran yang effektif. Persoalan lain adalah banyak guru yang menjalankan tugas guru bukan sebagai profesi tetapi sebagai mata pencaharian. Jangan boro-boro berbicara tentang profesionalitas, apakah guru hadir di kelas pada jam pelajaran, ini juga persoalan sendiri. Banyak guru yang masih memakai materi tahun 1960-an, tidak memakai materi yang kontekstual.
System management pendidikan kita baik pada lembaga yang paling tinggi Departemen Pendidikan Nasional, sampai pada lembaga yang paling rendah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan, dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkannya seakan mempersiapkan orang untuk gagal. Kurikulum yang gonta-ganti, UN yang problematik, proyek buku pelajaran yang manipulatif dan penuh dengan KKN adalah tanda tidak memadainya system pendidikan kita. Jelas tirani Negara, kapitalisme pasar dan anarki masyarakat turut memperparah pendidikan kita. Sekolah yang kuat dengan manajemen yang professional akan tetap eksist. Lantas bagaimana nasib sekolah dengan system managemen lemah dan hanya pasrah pada keputusan dari atas. Dalam konteks ini kita seringkali menemukan persoalan yang disebabkan oleh tubrukan kepentingan pada tingkat nasional dengan realitas penyelenggaraan pendidikan pada tingkat lokal. Persoalan ini berbuntut pada krisis pendidikan. Lagi-lagi, system pendidikan mempersiapkan orang untuk gagal. Itu baru system, bagaimana dengan orang yang menjalankan system. Ada banyak cerita sumbang yang kita dengar. Ada banyak pengawas dari ibu kota propinsi, kabupaten atau kecamatan yang mengunjungi sekolah untuk minta tanda tangan dari kepala sekolah untuk kenaikan pangkat. Ia tidak menjalankan tugas supervisi. Kepala sekolah yang bermental proyek. Ada juga proses pemiskinan, “minta” uang dari sekolah. Para pejabat di propinsi paling senang ke Manggarai karena ada amplop. Orang yang menempati pos-pos penting di Diknas adalah orang yang bermasalah. Atau dalam term management pendidikan diadministrasikan. Tidak dapat mengajar atau bermasalah waktu menjalankan tugas pengajaran. Ironis memang. Itulah cerita-cerita buram tentang pendidikan kita.
Bagaimana dengan sarana dan prasarana pendidikan? Sekolah dengan sarana prasarana penunjang yang memadai hanya terdapat di kota-kota besar. Ini tidak kita temukan di daerah-daerah kita. Dalam kondisi ini kita tidak mungkin dapat menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang ideal yang mengarah pada peningkatan mutu dan terciptanya output yang kompetitif. Ada ketimpangan antara visi pendidikan nasional dengan misi pendidikan yang mesti diaktualisasikan dalam kegiatan-kegiatan konkret termasuk penyediaan sarana prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar. Bersyukurlah dalam kondisi seperti ini kita masih sanggup menyelenggarakan pendidikan. Patut disayangkan memang kalau ada sekolah yang harus dijual atau ditutup, sebagai mana yang kita dengar di beberapa tempat lain di Indonesia. Pendidikan yang kita jalankan alakadarnya saja.
Pendidikan di Manggarai Timur adalah pendidikan di tengah realitas kemiskinan masyarakat. Menyelenggarakan sekolah dengan biaya tinggi tentu membawa beban ekonomi. Apalagi masyarakat selalu berpikir pendidikan itu mahal. Ada banyak anak tamatan sekolah yang tidak melanjutkan pendidikan karena persoalan biaya. Banyak yang berhenti di SD. Sebagai contoh, SDI Tanggo 1997: Masuk 31 tamat 16, masuk SMP 12 orang, masuk SMA 8. Ini baru satu contoh. Kita juga menemukan fakta lain bahwa berkurangnya anak untuk mengikuti kegiatan pendidikan lebih karena kurangnya motivasi untuk belajar. Atau katakanlah tidak mau sekolah. Sementara peluang untuk melanjutkan pendidikan dan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dengan biaya yang sanggup dijangkau masyarakat bawah masih tersedia. Begitu juga dengan semakin genjarnya GNOTA, beasiswa dari pemerintah dan yayasan serta subsidi silang antara lembaga pendidikan. Memang ini cukup ironis. Di tengah merebaknya budaya pesta, masyarakat masih menganggap pendidikan mahal. Pikiran kita tentu tidak berhenti pada sedikitnya orang yang mengenyam pendidikan formal. Ada juga hal lain yang kita pikirkan. Paling tidak, rendahnya pendidikan dapat memicu lahirnya persoalan sosial di tengah masyarakat.


Kiprah Gereja dalam Bidang Pendidikan
Karya nyata gereja di bidang pendidikan sebagai salah satu aspek pemberdayaan masyarakat berjangka panjang merupakan bagian integral dari sejarah Gereja Keuskupan Ruteng. Sejak masa awal misi di Flores Barat (Manggarai) para misionaris dan awam sudah menunjukkan keprihatinan dan usaha nyata untuk meningkatkan mutu pendidikan . Pembukaan sekolah-sekolah dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah bahkan pendidikan tinggi telah menjadi bagian penting dari keprihatinan gereja. Sekolah-sekolah tersebut bernaung di bawah Yayasan SUKMA. Pendidikan dengan itu juga sudah disadari sebagai pilar utama penyangga kehidupan menggereja. Searah perjalanan waktu, misi pendidikan Gereja Manggarai telah mencetak tokoh-tokoh katolik maupun non katolik yang berkiprah di tingkat local maupun nasional.
Hingga tahun 2007, di wilayah Kabupaten Manggarai Timur sekurangnya terdapat 4 TKK, 101 SDK, 12 SMP dan 2 SMA, yang langsung berada di bawah penanganan Yayasan SUKMA. Kehadiran lembaga-lembaga tersebut di tengah masyarakat paling tidak telah menjawabi dan memenuhi harapan masyarakat untuk mendapat pendidikan wajib; wajib belajar 9 tahun. Pemenuhan harapan itu tentu tidak serta merta hanya diembankan oleh Gereja. Pemerintah dan yayasan-yayasan lain juga mempunyai peran yang sama.
Peran serta Gereja Keuskupan Ruteng dalam pemberdayaan masyarakat bukan hanya pada kegiatan membuka sekolah dan menyediakan sarana prasarana pendidikan. Kegiatan-kegiatan praktis yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah juga mendapat perhatian Gereja. Pengadaan tenaga-tenaga pengajar, pelaksanaan kursus, dan pelatihan untuk peningkatan profesionalisme guru juga gencar dilaksanakan. Guru diajak dan dilatih untuk memiliki kompetensi sebagai tenaga pengajar professional. Guru menjadi professional dalam arti menguasai ilmu dengan baik dan memiliki keterampilan untuk membagikan ilmu dan menghidupkan iklim pembelajaran yang efektif. Secara spesifik para guru diperkenalkan dan dilatih untuk memahami kurikulum baru KTSP, berikut strategi pembelajaran yang khas dan kontekstual yang meningkatkan peran aktif siswa dalam pembelajaran serta mampu mengakomodasi kepentingan nasional dan kebutuhan masyarakat lokal. Dengan demikian, perpaduan yang sinergis antara kebutuhan nasional dan lokal tidak membuat guru dan siswa tercerabut dari kekayaan nilai budaya dan kearifan tradisional yang dipelajarinya dari masyarakat dan lingkungannya.
Untuk menunjang mutu pendidikan, Gereja melalui Yayasan SUKMA juga mengoptimalisasi dan memfasilitasi kerja sama antara sekolah. Pikiran positif ini terealisasi dalam kegiatan pertukaran guru dan siswa. Memang pelaksanaannya sungguh terbatas, namun cara ini sudah memompa dan memacu semangat belajar siswa dan meningkatkan kinerja kerja para guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kegiatan penelitian pada tingkat sekolah juga dijalankan. Dengan adanya keterbatasan fasilitas yang menunjang pelajaran; Perpustakaan dan laboratorium (buku dan alat-alat peraga); para guru dan siswa diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman sekolah-sekolah lain.
Keprihatinan Gereja melalui Yayasan SUKMA pada tingkat pertama lebih berorientasi pada upaya peningkatan profesionalitas guru. Guru-guru harus professional. Upaya konkrit peningkatan profesionalitas guru sudah nyata melalui penyelenggaraan lokakarya. Peluang untuk studi lanjut bagi para guru juga terbuka lebar. Paling tidak ini nyata dalam tingginya minat masyarakat untuk mengenyam pendidikan guru di PGSD. Pada tataran lebih jauh, upaya gereja bukan saja sebatas pada upaya perluasan dan penambahan pengetahuan yang berguna bagi para guru, tetapi juga peningkatan soft skill (nilai-nilai kemanusiaan dan rohani) yang diselenggarakan melalui kegiatan ret-ret dan rekoleksi. Ini juga merupakan sebuah kegiatan penyadaran. Menjadi guru bukanlah sebuah mata pencaharian tetapi sebuah profesi dan pelayanan. Menjadi guru bukanlah tempat yang pas untuk mencari duit. Tentu ini sama sekali tidak berarti bahwa kesejahteraan guru tidak diperhatikan. Dengan mengembankan tugas sebagai guru, seseorang sebetulnya dipanggil untuk mengabdi dan melayani. Lebih jauh, untuk meningkatkan mutu pendidikan, kita bukan cuma membutuhkan guru-guru yang pintar-guru-guru yang memiliki kompetensi keilmuan tetapi juga membutuhkan guru-guru yang kaya akan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.


Merancang Pendidikan Masa Depan: Rekomendasi Pemikiran
1. John Dewey dalam bukunya Education and Experience berbicara banyak tentang pendidikan. Dikotomi pendidikan tradisional yang mengedepankan peran sentralistik guru dan pendidikan progressive yang mengedepan kemajuan secara tajam menghasilkan output pendidikan yang tidak otonom dalam berpikir dan kurang peka terhadap lingkungan hidupnya. Peserta didik teralienasi dari lingkungan hidupnya karena apa yang diterimanya dalam proses belajar mengajar adalah sesuatu hal yang asing, tidak menyentuh pengalaman hidupnya yang konkret. Pendidikan tradisional dengan pola pendekatan yang berpusat pada guru, telah menempatkan siswa sebagi obyek, yang kehilangan kreativitas dan kemandirian untuk berpikir. Pendidikan tradisional hanya menanamkan nilai-nilai tradisional yang dijejalkan sebagai patokan tingkah laku dalam kehidupan masyarakat. Guru mengajarkan apa yang diterima dari guru sebelumnya. Materi pendidikan tidak berkembang. Masyarakt menjadi tertutup terhadap nilai-nilai baru. Pendidikan tidak lebih dari sebuah proses pewarisan nilai. Pengetahuannya tidak lebih dari pewarisan nilai-nilai tradisional.Di pihak lain, pendidikan progressive yang berorientasi pada kemajuan lebih banyak mencecoki peserta didik dengan kemajuan mutakhir di negeri nun jauh. Anak di bawah ke dunia yang lain. Ia kehilangan pijakan untuk berpikir tentang masyarakatnya. Dalam kerangka pemikiran Dewey, model pendidikan yang baik harus mampu mengakomodasi pengalaman hidup peserta didik. Pengalaman pergumulan hidup individu di tengah masyarakat adalah sumber belajar. Lingkungan di mana ia tinggal adalah sebuah wacana yang perlu dieksplorasi. Pendidikan adalah sebuah proses internalisasi. Internalisasi pengalaman individu dan masyarakatnya. Pendidikan model ini tidak membuat individu asing dari masyaraktnya. Ia menjamin kontinuitas pengetahuan. Apa yang dipelajari di ruang kelas bukanlah sesuatu hal yang asing. Siswa dapat melihatnya dalam kehidupannya yang konkrit. Proses belajar tidak mencerabut individu dari basis pengalamannya. Bagaimanakah praxis pendidikan ala Dewey dijalankan dalam konteks masyarakat kita. Masyarakat dan lingkungan di mana individu hidup serta berbagai pengalamannya adalah materi belajar. Masyarakat dan lingkungan menjadi laboratorium tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan. Pendidikan dengan demikian tidak mesti dijalankan di dalam ruangan kelas. Dalam konteks ini, kegiatan pendidikan dapat dijalankan di mana saja; di alam terbuka, di sawah, sungai, di tengah perkampungan, di pasar dll. Dengan melihat kenyataan yang ada, siswa dengan sendirinya merumuskan pemahamannya atas apa yang dijumpainya dalam pengalaman hidup, mendiskusikannya dengan teman-teman, kemudian diperkaya oleh pemahaman sang guru. Proses belajar seperti ini menjadi lebih menarik dan memberi kesempatan yang lebih luas bagi para siswa untuk berkembang. Dalam konteks ini Sekolah Alam bisa menjadi alternative untuk mengimbangi kurangnya sarana dan prasarana.
2. Salah satu tuntutan mendesak dalam kehidupan modern adalah perlunya kerja sama antara berbagai pihak. Net work (jaringan kerja) menjadi kata kunci sekaligus penjamin keberlangsungan usaha. Dalam konteks pendidikan masyarakat pinggiran yang dililit oleh berbagai persoalan, menggalang kerja sama dengan berbagai pihak menjadi semakin penting. Kerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah bisa saja dijalankan dengan menghidupkan net work-membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama bisa dijalankan dengan pihak universitas yang siap untuk memberikan pelatihan bagi guru-guru, kerja sama dengan pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan terpadu yang berbasis kebutuhan lokal, kerja sama dengan sekolah-sekolah yang sudah maju dan kerja sama dengan tokoh-tokoh professional,kerja sama antara guru bidang studi. Kerja sama ini bukan cuma untuk meringankan beban financial sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan pelatihan tetapi terutama berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Terbersit khabar bahwa di Dinas Pendidikan ada dana yang nombok, tak tahu harus diapakan. Dari pada dikorupsi dana-dana tersebut lebih baik dimanfaatkan.
3. Salah satu pikiran alternatif yang bias dikedepankan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Manggarai Timur adalah membentuk pusat studi atau kajian pendidikan yang menyelenggarakan diskusi dan kegiatan penelitian di bidang pendidkan. Pusat studi ini dapat menjadi bank informasi bagi penataan pendidikan dan pengembangan kurikulum. Hasil penelitian tersebut dapat menjadi basis pengambilan kebijakan yang tepat bagi penyelenggaraan pendidikan. Kegiatan ini dijalankan oleh kelompok-kelompok professional yang mengikutsertakan guru dan murid.
4. Kerja sama antara guru bidang studi dan antar sekolah perlu dioptimalisasikan. Bahkan pada tataran yang lebih konkrit harus bisa merumuskan kesamaan materi pembelajaran, tanpa mengabaikan corak dan keistimewaan sekolah masing-masing.






Penutup
Di manakah anak-anak kita harus belajar, bagaimanakah mereka harus belajar, dan kepada siapakah mereka harus belajar adalah pertanyaan kunci dari seminar kita pada kesempatan ini? Kita bisa menjawabnya di sini dan kini.
Kita semua tentu sepakat, pendidikan telah menjadi tungku utama pemberdayaan masyarakat sekaligus penentu kualitas bangsa. Melalui media pedidikan kegiatan pemberdayaan itu berproses. Supaya pendidikan itu menghasilkan output yang berkualitas baik, maka faktor-faktor penentu pendidikan harus diberdayakan. Kegiatan pemberdayaan ini terutama berorientasi pada manusia yang menyelenggarakan pendidikan baik guru dan peserta didik, tenaga non edukatif yang bergerak di bidang pendidikan, serta masyarakat. Untuk mengoptimalisasikan kegiatan pemberdayaan tersebut aspek lain juga perlu mendapat perhatian. Sarana-prasarana pendidikan dan lingkungan fisik yang menunjang kegiatan pendidikan paling tidak juga perlu mendapat perhatian.

Bahan Acuan
Atmadi A., Setiyaningsih Y., ed., Transformasi Pendidkan, Yogyakarta, Kanisius dan Universitas Sanata Dharma, 2004.
Aoer Cyprianus, Masa Depan Pendidikan Nasional (Catatan Seorang Wartawan), Jakarta, Center for Poverty Studies, 2005.
Buchori, Mochtar, Pendidikan Antisipatoris, Yogyakarta, Kanisius, 2006.
Darmaningtyas, Pendidikan Rusak-Rusakan, Yogyakarta, LKiS, 2005.
Dewey, John, Education and Experience,
Lie, Anita, Profesional Pendikan, Materi Lokakarya Menyiasati Pendidikan di Indonesia, Klaten, September 2007.
Sindhunata, ed., Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita, Yogyakarta, Kanisius, 2004.
Sindhunata, ed., Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Yogyakarta, Kanisius, 2004.
Sindhunata, ed. Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman, Yogyakarta, Kanisius , 2005.

Komentar